DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda
- Kesiapan menghadapi tsunami bukan hanya soal peringatan dini, tetapi juga
memastikan masyarakat mengetahui langkah penyelamatan saat bencana terjadi.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan
tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menggandeng Institut
Teknologi Bandung (ITB) dalam menyiapkan desa-desa pesisir agar memenuhi
standar Tsunami Ready Community yang diakui UNESCO.
Persiapan itu dimatangkan
melalui rapat koordinasi bersama tim ahli Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut
Teknologi Bandung (FITB ITB), di Ruang Crisis Center Pusdalops BPBD Kabupaten
Lampung Selatan, Senin (19/10/2026).
Pendampingan direncanakan
berlangsung selama tiga bulan, dengan fokus pada pemenuhan 12 indikator utama
Tsunami Ready.
Program ini tidak hanya
diarahkan untuk memenuhi standar pengakuan internasional, tetapi juga
memperkuat penerapan sistem kesiapsiagaan bencana di tingkat desa agar
manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.
Rapat dipimpin Asisten Bidang
Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Setdakab Lampung Selatan, Tri Umaryani, serta
dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan Maturidi, perwakilan Paluma
Nusantara dan Mitra Bentala, serta perwakilan Desa Tangguh Bencana (Destana)
dari Desa Maja, Canti, Rajabasa, dan Kelawi.
Dalam arahannya, Tri Umaryani
menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat
pesisir.
Menurutnya, keindahan alam
Lampung Selatan perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap potensi ancaman
bencana dan kemampuan masyarakat untuk meresponsnya.
“Lampung Selatan ini sangat
indah, tetapi di sisi lain kita memiliki potensi bencana yang harus diwaspadai,
mengingat pengalaman di masa lalu,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim ahli FITB ITB dan seluruh mitra yang mendukung upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim FITB
ITB, Wiwin Windupranata, menjelaskan bahwa pendampingan ini merupakan tindak
lanjut dari audiensi sebelumnya dengan Bupati Lampung Selatan. Program tersebut
mengacu pada standar Tsunami Ready Community yang dikembangkan dalam kerangka
pengakuan UNESCO untuk mendorong kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman
tsunami.
Selama tiga bulan pendampingan,
tim akan membantu desa-desa sasaran mengumpulkan dan melengkapi bukti pemenuhan
12 indikator utama. Proses ini mencakup penyiapan dokumen sekaligus penguatan
sistem kesiapsiagaan yang dapat diterapkan di lapangan.
“Pengalaman kami mendampingi
sejumlah desa di Jawa Barat menjadi bekal untuk membantu Lampung Selatan
memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami,” ujar Wiwin.
Menurutnya, pemenuhan indikator
tidak boleh berhenti pada kelengkapan administrasi. Sistem yang dibangun harus
benar-benar dipahami dan dijalankan oleh masyarakat agar berfungsi ketika
keadaan darurat terjadi.
“Ini bukan sekadar melengkapi
dokumen administrasi semata, tetapi benar-benar sistem yang kita jalankan dan
rasakan manfaatnya di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sejalan dengan pendampingan
tersebut, BPBD Lampung Selatan menargetkan proses pemenuhan 12 indikator dapat
diselesaikan sebelum akhir Desember 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Lampung
Selatan, Maturidi, mengakui bahwa belum seluruh indikator terpenuhi secara
optimal. Meski demikian, pihaknya menargetkan seluruh proses persiapan dapat
dituntaskan sesuai jadwal.
“Meskipun saat ini dari 12
indikator belum semuanya terpenuhi secara sempurna, kami menargetkan pada akhir
bulan Desember 2026 seluruh proses ini sudah tuntas dilaksanakan,” ujarnya.
Untuk mencapai target tersebut,
Maturidi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, terutama dalam
memperkuat sarana, prasarana, dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di
tingkat desa.
Dukungan dari Paluma Nusantara,
Mitra Bentala, serta para pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat
membantu mengatasi keterbatasan yang masih dihadapi di lapangan.
Ia juga berharap desa-desa yang
telah lebih dahulu menjalankan upaya kesiapsiagaan dapat menjadi contoh bagi
wilayah lain dalam mengembangkan sistem serupa.
Melalui pendampingan ITB dan
kolaborasi lintas sektor, Pemkab Lampung Selatan memperkuat kesiapsiagaan desa
pesisir agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman tsunami, mulai dari
mengenali potensi bahaya hingga melakukan evakuasi. (Kmf-Gil)