DISKOMINFO LAMSEL, Jakarta - Investasi bagi daerah bukan sekadar
tentang seberapa besar modal yang berhasil masuk, tetapi sejauh mana investasi
tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, dan menciptakan
aktivitas usaha baru yang memberi manfaat nyata.
Perspektif inilah yang menjadi
perhatian Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama saat menawarkan konsep
“kalibrasi kolaborasi” antara pemerintah pusat dan daerah.
Gagasan tersebut disampaikan
Egi yang juga Bendahara Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia
(Apkasi) saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) bertajuk
“Mengoptimalkan Potensi Investasi Daerah Melalui Sinergi dan Kolaborasi Pusat
dan Daerah” yang digelar Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, di Ruang
Rapat Pontianak, Gedung Suhartoyo Lantai 3, Jakarta Selatan, Rabu (7/10/2026).
Menurut Egi, investasi harus
dipandang sebagai sebuah sistem yang utuh. Potensi sumber daya alam yang besar
tidak otomatis menjadi daya tarik apabila tidak disertai kepastian tata ruang,
lahan, lingkungan, tenaga kerja, infrastruktur, serta regulasi yang sederhana
dan pasti.
“Investasi tidak akan
menggerakkan suatu daerah hanya karena memiliki potensi alam yang berlimpah.
Modal akan hadir di daerah yang memiliki birokrasi sederhana, tidak rumit, dan
yang paling penting memberikan kepastian regulasi,” ujar Egi.
Karena itu, ia menilai promosi
potensi daerah saja tidak cukup. Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan
ekosistem sejak awal, sementara pemerintah pusat diharapkan membantu
menyelaraskan sistem, regulasi, dan akses investasi agar berbagai persoalan di
lapangan tidak menjadi hambatan bagi pelaku usaha.
Egi menyebut sejumlah persoalan yang masih perlu mendapat perhatian, mulai dari kesesuaian data Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dengan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), integrasi sistem OSS RBA, hingga proses persetujuan lingkungan. Di sisi lain, keterbatasan fiskal daerah juga membuat pembangunan infrastruktur pendukung investasi tidak selalu dapat mengandalkan APBD.

Dalam konteks itu, Egi
menawarkan “kalibrasi kolaborasi”
sebagai upaya menyelaraskan kebutuhan pusat dan daerah. Ia mendorong integrasi
data spasial secara real-time, penguatan skema pembiayaan kreatif infrastruktur
melalui KPBU non-APBD, serta insentif hilirisasi berbasis kinerja bagi daerah
yang mampu menghubungkan industri dengan UMKM.
Lampung Selatan, kata Egi,
memiliki modal dasar yang kuat untuk dikembangkan. Sekitar 70 persen wilayahnya
merupakan kawasan pertanian, memiliki garis pantai sekitar 250 kilometer, serta
berada pada posisi strategis sebagai gerbang Pulau Sumatra. Potensi ini menjadi
pijakan dalam mengembangkan investasi, terutama sektor pariwisata dan agro.
“Kami tidak ingin investasi
yang masuk hanya sekadar masuk, tetapi bagaimana investasi tersebut benar-benar
menciptakan impact ekonomi bagi
daerah,” kata Egi.
Sejak awal memimpin Lampung
Selatan, ia menempatkan pariwisata sebagai salah satu fokus pengembangan,
termasuk mendorong konsep pariwisata edukasi berbasis agro yang selaras dengan
karakter wilayah sebagai daerah pertanian.
Pemerintah daerah juga terus
membenahi infrastruktur dan akses menuju kawasan potensial pariwisata di tengah
keterbatasan kemampuan fiskal.
Melalui forum tersebut, Egi
berharap Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dapat semakin intensif
mendampingi pemerintah daerah dalam mengidentifikasi, memetakan, dan
mempromosikan potensi investasi. Dukungan itu dinilai penting untuk membuka
jejaring yang lebih luas dan mempertemukan potensi daerah dengan investor yang
tepat.
“Kalau negara ini ingin
investasinya tumbuh besar, harapan kami, Kementerian Investasi bisa turun lebih
intensif membantu daerah, memberikan gambaran potensi, membuka akses jejaring,
dan memberikan perspektif yang lebih luas bagi kami di daerah,” tuturnya.
Bagi Egi, ukuran keberhasilan
investasi pada akhirnya bukan hanya nilai penanaman modal yang tercatat,
melainkan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.
Investasi yang terhubung dengan
potensi lokal diharapkan mampu memperkuat usaha masyarakat, menciptakan
lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan membuat pertumbuhan ekonomi
daerah lebih inklusif serta berkelanjutan. (Kmf-lmhr)