DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Upaya Kabupaten Lampung Selatan dalam
mencegah dan mempercepat penurunan stunting baru saja mendapat apresiasi dari
Pemerintah Provinsi Lampung sebagai salah satu kabupaten/kota yang menunjukkan
kinerja baik. Namun, capaian tersebut tidak membuat Lampung Selatan berpuas
diri.
Sebaliknya, apresiasi itu
menjadi pemantik untuk bergerak lebih cepat dengan target yang lebih tinggi,
yakni membawa angka stunting Lampung Selatan menjadi yang terendah di Indonesia
hingga menuju zero stunting.
Komitmen tersebut mengemuka dalam
Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS)
Kabupaten Lampung Selatan melalui Zoom
Meeting yang berlangsung di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan,
Kamis (1/10/2026).
Ketua Tim Penggerak PKK
Kabupaten Lampung Selatan, Zita Anjani, mengatakan target tersebut harus
diwujudkan melalui kerja yang cepat, terukur dan berbasis data, dengan
melibatkan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Target kita bukan sekadar
berada di bawah angka nasional. Saya ingin Lampung Selatan menjadi daerah
dengan angka stunting terendah di Indonesia. Kalau targetnya zero stunting,
maka kita mulai dengan menurunkannya secepat mungkin,” tegas Zita.
Saat ini, angka stunting
Lampung Selatan berada di 10,4 persen. Zita meminta penurunan dilakukan secara
lebih agresif, dengan target angka tersebut dapat ditekan menjadi 5 persen pada
akhir 2027 dan kembali turun menjadi 3 persen atau lebih rendah pada 2028.
“Kalau sekarang 10,4 persen,
target saya satu tahun pertama turun menjadi 5 persen. Tahun berikutnya harus
lebih rendah lagi. Kita masih punya waktu untuk mengejar target tersebut. Ini
bukan hal yang tidak mungkin, asalkan kita benar-benar fokus,” ujarnya.
Untuk mengejar target itu, Zita
meminta TPPPS segera menyusun strategi yang sederhana, efektif dan terukur.
Setiap perkembangan juga harus dapat dievaluasi secara berkala sehingga hasil
intervensi dapat diketahui secara jelas.
Menurutnya, keberhasilan
penanganan stunting tidak cukup hanya diukur dari program yang dijalankan,
tetapi dari seberapa jauh intervensi tersebut mampu menyentuh sasaran yang
membutuhkan.
Karena itu, ia menekankan
pentingnya pembaruan dan validasi data sebagai dasar dalam menentukan
intervensi. Pemerintah daerah juga diminta memiliki mekanisme pelaporan yang
jelas agar persoalan yang ditemukan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau saya turun ke lapangan, saya harus tahu siapa yang bertanggung jawab, datanya di mana, dan kalau masyarakat mau melapor harus ke mana. Kita harus punya sistem yang jelas,” katanya.

Dalam rapat tersebut, Zita juga menempatkan persoalan putus sekolah sebagai bagian penting dari agenda pembangunan generasi emas Lampung Selatan.
Ia menargetkan angka putus
sekolah yang saat ini sekitar 21 persen dapat ditekan menjadi 10 persen pada
tahun pertama, kemudian kembali turun menjadi 5 persen pada tahun berikutnya.
Upaya tersebut, kata Zita,
harus dilakukan dengan pendekatan jemput bola, terutama bagi anak-anak yang
tidak bersekolah karena persoalan akses maupun kondisi sosial ekonomi keluarga.
“Anak-anak Lampung Selatan
semuanya harus sekolah. Kalau aksesnya jauh, kita cari solusinya. Kalau sekolah
negeri tidak cukup, kita tambah kapasitas atau kita bangun kerja sama dengan
sekolah swasta. Kalau membutuhkan beasiswa, kita pikirkan beasiswanya. Yang
penting tidak boleh ada anak yang kehilangan haknya untuk sekolah,” tegasnya.
Zita menilai penanganan
stunting dan putus sekolah memiliki kaitan erat dengan upaya membangun generasi
emas Lampung Selatan.
Anak-anak merupakan bagian
penting dari masa depan daerah sehingga aspek kesehatan, tumbuh kembang dan
pendidikan perlu ditangani secara bersama-sama.
Untuk memperkuat gerakan
tersebut, ia mendorong pengembangan kampanye “Lampung Generasi Emas”
sebagai gerakan bersama dengan dua fokus utama, yakni zero stunting dan zero
putus sekolah.
Zita juga meminta Dinas
Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lampung Selatan menyiapkan ruang informasi
melalui media sosial yang secara khusus menyajikan perkembangan program
tersebut.
Ruang informasi itu diharapkan
tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga membuka kanal bagi masyarakat
untuk menyampaikan laporan terkait anak yang membutuhkan intervensi.
“Seperti homepage yang
berisikan seluruh kegiatan percepatan zero stunting dengan nama Lampung Selatan
GEH (Generasi Emas Helau) dan juga Zero Putus Sekolah. Saya juga minta siapkan
hotline,” ujarnya.
Menurut Zita, sistem informasi
tersebut harus berjalan beriringan dengan ketersediaan data yang mutakhir dan
valid. Dengan demikian, setiap persoalan dapat segera diketahui, ditentukan
penanggung jawabnya dan ditindaklanjuti dengan intervensi yang sesuai.
Di akhir arahannya, Zita
meminta jajaran terkait segera menyiapkan paparan lanjutan mengenai strategi
percepatan penurunan stunting dan putus sekolah.
Paparan tersebut diminta tidak
berisi uraian panjang, tetapi fokus menjawab langkah paling cepat dan efektif
untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
“Kita ingin ini menjadi hadiah
terindah untuk masyarakat Lampung Selatan. Stunting terendah di Indonesia dan
putus sekolah terendah bukan sekadar slogan. Ini pilihan kita untuk fokus dan
bekerja bersama. Kalau kita sepakat untuk bergerak, insyaallah target itu bisa
kita capai,” kata Zita. (Kmf-lmhr)