DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung
Selatan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan
membenahi data kebencanaan, memastikan kesiapan sarana evakuasi, serta
memperkuat dukungan komunikasi dan sumber daya lintas sektor.
Langkah tersebut menjadi penting
mengingat Lampung Selatan memiliki wilayah pesisir dengan garis pantai sekitar
240 kilometer yang berhadapan langsung dengan berbagai potensi risiko bencana,
termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau dan ancaman tsunami.
Komitmen itu mengemuka dalam
Rapat Koordinasi dan Tindak Lanjut Rencana Aksi Menghadapi Erupsi Gunung Anak
Krakatau dan Ancaman Tsunami yang digelar di Ruang Rapat Pusdalops PB Kantor
BPBD Lampung Selatan, Kamis (24/9/2026).
Asisten Bidang Pemerintahan dan
Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, M. Darmawan,
mengatakan kesiapsiagaan harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya
ketika bencana terjadi.
“Kita berharap rapat koordinasi
seperti ini dapat dilaksanakan setiap minggu berdasarkan informasi yang kita
terima, sehingga kewaspadaan kita tetap meningkat,” ujar Darmawan.
Menurutnya, meskipun status
aktivitas Gunung Anak Krakatau telah turun dari Level III (Siaga) menjadi Level
II (Waspada), kesiapan seluruh pihak tetap perlu diperkuat agar respons dapat
dilakukan secara cepat dan terkoordinasi apabila kondisi darurat terjadi.
Salah satu fokus utama dalam rapat tersebut adalah pemutakhiran data kebencanaan. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Maturidi, langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat akurasi dan keseragaman data dari berbagai kecamatan dan perangkat daerah sebagai dasar pengambilan keputusan saat penanganan bencana.

Untuk itu, BPBD menyiapkan
format pendataan yang seragam agar seluruh informasi yang dibutuhkan dapat
dihimpun secara lebih akurat. Data tersebut mencakup desa yang berpotensi
terdampak, jumlah kepala keluarga dan penduduk, jalur evakuasi, titik kumpul,
lokasi pengungsian, hingga dokumentasi kondisi lapangan.
“Data ini harus kita lengkapi
selagi kondisi masih normal, sehingga ketika terjadi bencana kita sudah
mengetahui jumlah masyarakat, jalur evakuasi, titik kumpul dan lokasi
pengungsian yang akan digunakan,” kata Maturidi.
Selain pemutakhiran data,
penguatan sistem komunikasi darurat juga menjadi perhatian. BPBD
memprioritaskan pemasangan rig radio komunikasi, untuk memperluas jangkauan
komunikasi saat kondisi darurat, di tujuh kecamatan: Katibung, Sidomulyo,
Kalianda, Rajabasa, Bakauheni, Ketapang, dan Sragi.
Kesiapan lokasi evakuasi turut
dievaluasi. Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, masih ditemukan sejumlah
fasilitas yang memerlukan perbaikan, mulai dari kebocoran atap hingga sarana
mandi, cuci, kakus (MCK).
Karena itu, perangkat daerah
yang memiliki bangunan yang akan difungsikan sebagai tempat evakuasi diminta
memastikan kondisi bangunan tetap terawat dan siap digunakan sewaktu-waktu.
Di sisi lain, masing-masing
sektor diminta menyiapkan dukungan sesuai tugas dan kewenangannya, termasuk
memastikan mekanisme penggunaan sumber daya dapat berjalan cepat saat keadaan
darurat.
Hal ini juga mencakup peralatan
milik perangkat daerah, termasuk peralatan berat, yang perlu didukung mekanisme
penggunaan yang jelas agar dapat segera dimobilisasi ketika dibutuhkan.
Sebagai tindak lanjut, BPBD
Lampung Selatan akan mendorong pelaksanaan tabletop
exercise atau simulasi di atas meja guna menguji pembagian tugas, alur
komunikasi, serta koordinasi antarinstansi. Simulasi tersebut akan menjadi
tahap awal sebelum pelaksanaan simulasi lapangan apabila dibutuhkan.
Melalui pemutakhiran data,
pembenahan sarana evakuasi, penguatan komunikasi, pemetaan sumber daya, serta
latihan bersama lintas sektor, Pemkab Lampung Selatan berharap kesiapsiagaan
penanganan bencana semakin terkoordinasi dan mampu mendukung respons cepat
untuk melindungi masyarakat ketika kondisi darurat terjadi. (Kmf-Nsy)