DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Kabupaten Lampung Selatan membidik
target besar dalam penanganan stunting. Ketua TP PKK Kabupaten Lampung Selatan,
Zita Anjani, ingin daerah ini tidak hanya menurunkan angka stunting, tetapi
mampu menjadi salah satu kabupaten dengan tingkat stunting terendah di Indonesia.
Target tersebut didorong
melalui kerja bersama lintas sektor dengan memperkuat peran perangkat daerah,
TP PKK, Bunda PAUD, hingga guru PAUD. Zita bahkan mendorong pembentukan satuan
tugas (satgas) yang secara khusus mengedepankan kolaborasi untuk memastikan
pencegahan dan intervensi stunting dilakukan sejak usia dini.
Hal itu disampaikan Zita saat
menghadiri kegiatan Penyelarasan Program Pendidikan dalam Pengentasan Stunting
yang diikuti 265 peserta dari berbagai unsur pendidikan dan PAUD di Kabupaten
Lampung Selatan, di Aula Krakatau, kantor bupati setempat, Kamis (17/9/2026).
“Kita ingin meninggalkan sebuah
legacy, sebuah kenang-kenangan manis
untuk Lampung Selatan. Kita ingin berupaya semaksimal mungkin dan bersama-sama
menjadikan Lampung Selatan sebagai kabupaten dengan tingkat stunting terendah
di Indonesia,” ujar Zita.
Menurut Zita, target tersebut
tidak mungkin dicapai jika penanganan stunting hanya dibebankan kepada satu
organisasi atau perangkat daerah.
Karena itu, diperlukan sistem
kerja yang mempertemukan berbagai unsur agar program yang sudah berjalan dapat
semakin terarah dan saling menguatkan.
Dalam skema tersebut, guru PAUD
dinilai memiliki posisi strategis. Mereka berinteraksi langsung dengan anak-anak
pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang menjadi fase penting dalam
pencegahan stunting.
“Masa emas anak harus kita
kawal bersama. Programnya sudah ada, baik dari pemerintah pusat, provinsi
maupun kabupaten. Yang kita perlukan adalah bergerak bersama, mengawasi anak-anak
yang berpotensi mengalami stunting dan memberikan intervensi sedini mungkin,”
katanya.
Zita mengatakan, guru PAUD
dapat menjadi bagian penting dalam mengenali potensi permasalahan pertumbuhan
anak. Temuan di lingkungan pendidikan kemudian dapat dikolaborasikan dengan
keluarga dan pihak terkait untuk memastikan anak memperoleh pendampingan maupun
intervensi yang diperlukan.
“Kolaborasi ini bisa sangat membantu kerja-kerja kita untuk menurunkan angka stunting. Guru-guru PAUD pasti paham dan bisa bekerja sama dengan baik,” tuturnya.

Selain mendorong keterlibatan
guru PAUD dalam penanganan stunting, Zita menyampaikan apresiasi atas peran
mereka dalam mendidik dan mendampingi anak-anak Lampung Selatan.
Menurutnya, perhatian terhadap
guru PAUD juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan anak
usia dini. Salah satunya melalui pemberian insentif kepada guru PAUD.
“Pemberian insentif sebesar 300
ribu rupiah mungkin nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang Bapak
dan Ibu berikan untuk pendidikan anak-anak Lampung Selatan. Tetapi ini
merupakan bentuk apresiasi dan perhatian kami kepada para guru PAUD,” ujar
Zita.
Sementara itu, Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan, Syaifulloh, mengatakan sektor pendidikan
memiliki peran strategis dalam menyelaraskan upaya pengentasan stunting. Peran
tersebut tidak berhenti pada pendidikan anak usia dini, tetapi mencakup seluruh
jenjang pendidikan hingga pendidikan nonformal.
“Dinas Pendidikan mengambil
peran strategis dengan menyelaraskan seluruh jenjang pendidikan untuk menjadi
garda terdepan dalam upaya pengentasan stunting,” kata Syaifulloh.
Ia mengatakan, kegiatan
penyelarasan program tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menyamakan persepsi
dan pemahaman seluruh pihak. Selain itu, kegiatan diarahkan untuk memantapkan
peran Bunda PAUD dan guru sebagai penggerak dalam upaya pengentasan stunting di
Lampung Selatan.
Pada kesempatan yang sama,
turut diserahkan sejumlah dukungan bagi pendidikan PAUD. Di antaranya insentif
guru PAUD yang telah disalurkan kepada 2.175 guru, piagam penghargaan bagi
peserta pendidikan dasar PAUD, serta bantuan 370 paket buku cerita dan 300
paket krayon kepada satuan pendidikan PAUD.
Melalui penyelarasan program
tersebut, Pemkab Lampung Selatan mendorong agar upaya pencegahan dan penanganan
stunting tidak berhenti pada program sektoral, tetapi menjadi gerakan bersama
yang dimulai sejak masa tumbuh kembang anak.
Dengan penguatan kolaborasi
antara pemerintah, Tim Penggerak PKK, satuan pendidikan, guru PAUD, dan
keluarga, target penurunan stunting diharapkan dapat dilakukan lebih dini,
terukur, dan berkelanjutan. (lmhr-Kmf)