DISKOMINFO LAMSEL, Merbau Mataram - Perubahan wajah Desa Baru
Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, mulai terasa dari semangat warganya.
Di tengah keterbatasan akses
jalan dan sarana lingkungan, masyarakat bergotong royong menata kampung melalui
program Desa Helau.
Perubahan itu terlihat saat
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama meninjau langsung pelaksanaan Desa
Helau di Baru Ranji, Sabtu (8/8/2026).
Dari kunjungan tersebut, Egi
menilai kekompakan masyarakat menjadi modal kuat yang membuat Desa Helau Baru
Ranji layak diperhitungkan dalam tiga besar Lomba Desa Helau tingkat Kabupaten
Lampung Selatan.
“Saya senang bisa ke sini,
dengan segala keterbatasan. Kenapa saya bilang masuk nominasi tiga besar,
karena saya melihat semangat masyarakatnya,” ujar Egi.
Menurut Egi, penilaian Desa Helau tidak hanya ditentukan oleh hasil pembangunan fisik. Lebih dari itu, kemauan masyarakat untuk bergerak bersama menjadi bagian penting dalam menciptakan perubahan di lingkungan mereka.

Ia melihat konsep Desa Helau
mulai berjalan di Baru Ranji. Warga tidak hanya menata lingkungan, tetapi juga
membangun dan memperbaiki fasilitas yang dapat dimanfaatkan bersama, salah
satunya pos kamling yang kini dibuat lebih nyaman.
“Saya melihat konsep Desa
Helaunya berjalan di sini. Pos kamlingnya juga nyaman, sesuai selera saya,”
katanya.
Egi mengatakan, Desa Helau
dirancang agar perubahan tidak berhenti sebagai program pemerintah, tetapi
benar-benar dapat dirasakan masyarakat melalui kondisi lingkungan yang berbeda
antara sebelum dan sesudah program dijalankan.
“Saya sekalian cek progresnya.
Saya mau tahu tanggapan bapak ibu terhadap Desa Helau ini. Program Desa Helau
ini dari kita, oleh kita, dan untuk kita,” ujarnya.
Keterbatasan Infrastruktur Jadi Perhatian
Di balik perubahan tersebut,
Egi juga menemukan persoalan infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah
bagi pemerintah daerah. Salah satunya kondisi sejumlah ruas jalan menuju
wilayah Baru Ranji yang dinilai cukup parah.
“Saya selaku bupati
menghaturkan permintaan maaf kalau jalannya belum bagus. 30 persen rusak, 70 persen
rusak banget,” ungkapnya.
Egi memastikan kondisi tersebut
menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun, ia menjelaskan pembangunan
infrastruktur harus dilakukan secara bertahap karena kemampuan anggaran daerah
harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan di berbagai wilayah.
“Saya minta perbaiki jalan Baru Ranji. Ini saya kalau nggak ke sini, nggak ngerti kalau jalannya begitu. Duitnya terbatas, saya harus bagi-bagi. Kebutuhannya banyak,” kata Egi.

Meski masih menghadapi
keterbatasan infrastruktur, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat
dalam menata lingkungan.
Sopia, warga Dusun Pilar, Desa
Baru Ranji, mengatakan perubahan kampungnya kini mulai dirasakan dibandingkan
kondisi sebelumnya.
“Sebelumnya kampung ini sangat
jelek sekali. Sekarang sudah bagus. Jalan juga sudah bagus, sudah rapi. Anak-anak
naik sepeda juga jalannya enak,” ujar Sopia.
Semangat gotong royong juga
terlihat dari keterlibatan warga dalam proses penataan lingkungan. Sadna, warga
Dusun Pilar, mengatakan masyarakat bahu-membahu menjalankan program Desa Helau,
bahkan hampir setiap hari hingga malam.
“Alhamdulillah semangat
masyarakat, hampir tiap hari, tiap malam. Abah umur 72 tahun tidur jam 12
lebih, ngikutin anak-anak biar semangat,” katanya.
Menurut Sadna, sebelum program
Desa Helau berjalan, kondisi kampung masih belum tertata. Warga kemudian mulai
bergerak bersama untuk membenahi lingkungan secara bertahap. “Sebelum ada Helau
mah acak-acakan,” ujarnya.
Dukungan warga tidak hanya
diberikan melalui tenaga dan waktu. Sadna mengungkapkan masyarakat juga
memberikan dukungan secara swadaya untuk membantu proses penataan lingkungan.
Ia sendiri turut menyumbang sekitar Rp10 juta.
Bagi Egi, partisipasi tersebut
menjadi nilai lebih Desa Helau Baru Ranji. Di tengah keterbatasan yang masih
dihadapi, masyarakat justru menunjukkan kemauan untuk memperbaiki lingkungan
dengan mengandalkan kekompakan dan gotong royong.
“Yang tadinya tertinggal, tidak
punya apa-apa, digas,” tegas Egi.
Semangat itulah yang menjadi
pertimbangan Egi untuk menilai Desa Helau Baru Ranji layak masuk nominasi tiga
besar. Menurutnya, perubahan desa tidak selalu harus dimulai dari kondisi yang
serba lengkap, tetapi dapat tumbuh dari kemauan masyarakat untuk bergerak
bersama.
Di Baru Ranji, semangat
tersebut mulai mengubah wajah lingkungan secara bertahap. Gotong royong menjadi
kekuatan utama masyarakat untuk menjadikan program Desa Helau bukan sekadar
penataan kampung, melainkan gerakan bersama yang manfaatnya dapat dirasakan
langsung oleh warga. (Kmf-ptm)