DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Tim Pengendalian Inflasi Daerah
(TPID) Kabupaten Lampung Selatan terus memperkuat berbagai langkah pengendalian
harga dan menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok masyarakat di tengah
inflasi nasional yang pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen.
Komitmen tersebut ditegaskan
melalui partisipasi aktif TPID Kabupaten Lampung Selatan dalam Rapat Koordinasi
(Rakor) Pengendalian Inflasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)
Republik Indonesia secara virtual, Senin (8/6/2026).
Selain mengikuti arahan
pemerintah pusat, TPID Lampung Selatan juga secara rutin melakukan pemantauan
harga di pasar tradisional serta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) guna
menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Rakor yang diikuti dari Ruang
Bagian Perekonomian Setdakab Lampung Selatan tersebut membahas perkembangan inflasi
nasional sekaligus langkah-langkah strategis dalam mengendalikan harga sejumlah
komoditas yang menjadi perhatian pemerintah.
Sekretaris Jenderal Kemendagri,
Tomsi Tohir, menekankan pentingnya perhatian pemerintah daerah terhadap seluruh
pergerakan harga, baik yang mengalami kenaikan maupun penurunan ekstrem.
Menurutnya, harga yang turun
terlalu tajam juga berpotensi merugikan petani dan peternak sehingga perlu
menjadi perhatian bersama.
“Betul-betul fokus pada harga
yang baik. Harga yang turun tajam dan merugikan petani maupun peternak juga
perlu disampaikan. Kita harus menjaga agar harga-harga tersebut tidak merugikan
produsen maupun konsumen,” ujar Tomsi.
Sementara itu, Pelaksana Harian
(Plh) Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS)
RI, Pudji Ismartini, memaparkan sejumlah faktor yang memengaruhi inflasi sepanjang
Mei 2026.
Pudji menjelaskan, produksi
cabai merah di sejumlah sentra nasional mengalami penurunan dibandingkan April
2026, antara lain di Garut, Temanggung, dan Malang.
Kondisi serupa juga terjadi pada produksi bawang merah di beberapa daerah sentra seperti Sampang, Enrekang, Bojonegoro, Pati, dan Demak.

“Penurunan produksi tersebut
dipengaruhi oleh perubahan cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu
tumbuhan (OPT), serta kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah,” kata Pudji.
Di sisi lain, menjelang Hari
Raya Iduladha 1447 Hijriah, permintaan terhadap sejumlah komoditas
hortikultura, khususnya tomat, mengalami peningkatan di berbagai daerah.
Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi keseimbangan
pasokan dan harga di pasar.
Selain komoditas pangan, BPS
juga mencatat adanya kenaikan harga LPG non-subsidi sekitar 19 persen yang
mulai diberlakukan PT Pertamina (Persero) sejak 18 April 2026.
Sementara itu, harga minyak
sawit dan minyak mentah mengalami koreksi pada Mei 2026 setelah sebelumnya
menunjukkan tren kenaikan sejak awal tahun.
Berdasarkan data BPS, inflasi
nasional secara bulanan (month to month)
pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen. Adapun inflasi tahunan (year on year) mencapai 3,08 persen,
sedangkan inflasi tahun kalender berada di angka 1,35 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan
tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,12 persen. Disusul
kelompok transportasi sebesar 0,07 persen serta kelompok informasi, komunikasi,
dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen.
Menyikapi perkembangan
tersebut, TPID Lampung Selatan berkomitmen terus memperkuat koordinasi lintas
sektor guna mengantisipasi gejolak harga, menjaga ketersediaan pasokan
kebutuhan pokok, serta memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Melalui langkah-langkah
tersebut, TPID Lampung Selatan berharap stabilitas ekonomi daerah dapat terus
terjaga, sekaligus menciptakan keseimbangan yang sehat antara kepentingan
produsen dan konsumen di tengah dinamika perekonomian nasional. (ptm)