DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Badan Pusat Statistik (BPS) akan
melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) secara serentak di seluruh Indonesia
pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026.
Sensus yang digelar setiap
sepuluh tahun sekali ini, sekaligus membawa misi besar pembaruan Data Tunggal
Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis kebijakan pembangunan yang
lebih akurat dan tepat sasaran.
Hal tersebut mengemuka dalam
audiensi BPS Kabupaten Lampung Selatan dengan Bupati Lampung Selatan, Radityo
Egi Pratama, di ruang kerja bupati, Selasa (7/4/2026).
Kepala BPS Lampung Selatan, Eko
Purnomo, menjelaskan bahwa sensus tahun ini memiliki cakupan lebih luas
dibanding sebelumnya. Tidak hanya sektor ekonomi, tetapi juga menyentuh sektor
pertanian yang menjadi salah satu kekuatan utama daerah.
“Sensus Ekonomi Tahun 2026 ini
akan mencakup sektor ekonomi dan pertanian. Selain itu, kami juga membawa
pembaruan DTSEN yang saat ini dalam proses pengawasan bersama Dinas Sosial,”
ujar Eko.
Ia menambahkan, dalam upaya
memperkuat validitas data, BPS turut berkolaborasi dengan PLN melalui integrasi
data pelanggan listrik sebagai bagian dari penyempurnaan DTSEN.
“Dengan padatnya agenda sensus
tahun ini, kami berharap dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Lampung
Selatan agar pelaksanaan dapat berjalan optimal,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati
Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan pentingnya penguatan sinergi
antara pemerintah daerah dan BPS, khususnya dalam penyediaan data makro yang
menjadi dasar utama perumusan kebijakan.
“Saya ingin komunikasi yang lebih intens dengan BPS, terutama dalam sinkronisasi data makro yang menjadi acuan utama dalam penyusunan kebijakan daerah,” kata Egi.

Bupati Egi juga menekankan
bahwa seluruh program pembangunan harus berbasis data dan kondisi riil di
lapangan, bukan sekadar perencanaan normatif.
“Program yang disusun harus
berbasis data, bukan semata keinginan, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata
masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Egi menyoroti
sejumlah tantangan pembangunan yang masih dihadapi, seperti belum optimalnya
keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, serta isu
kemiskinan dan stunting yang membutuhkan penanganan lebih terarah.
“Terkait kemiskinan, stunting,
serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kami membutuhkan
pendampingan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa IPM
Lampung Selatan mengalami peningkatan sebesar 0,9 persen, dari 72,15 menjadi
73,10, sebagai indikator positif dari program pembangunan yang telah berjalan.
Dalam kesempatan itu, Bupati
turut mendorong sinergi antara program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) dari
BPS dengan program unggulan daerah, yakni Desa Helau, guna memperkuat tata
kelola pembangunan berbasis data hingga tingkat desa.
“Kami ingin memastikan setiap
anggaran yang digunakan benar-benar tepat sasaran, efektif, serta memberikan
dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Egi. (lmhr-Kmf)