DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Radityo Egi Pratama memilih duduk
lesehan bersama mahasiswa saat menerima Aliansi Cipayung Plus dan Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Lampung Selatan di Pendopo Agung, Rumah Dinas
Bupati L, Selasa (3/3/2026).
Dalam suasana dialog yang
hangat namun kritis itu, Bupati Egi menegaskan komitmennya membuka ruang
seluas-luasnya terhadap kritik dan aspirasi publik.
Pertemuan tersebut merupakan
tindak lanjut atas aksi penyampaian aspirasi mahasiswa yang digelar pada 23
Februari 2026 lalu. Sarasehan ini menjadi forum untuk membedah tujuh poin
tuntutan evaluasi yang sebelumnya disampaikan.
Dalam dialog terbuka itu, Ketua
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lampung Selatan, Sandi Afrizal,
menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar seremonial, melainkan bagian
dari upaya mengawal arah pembangunan daerah.
“Kehadiran kami di sini adalah
bentuk tindak lanjut dari aksi Cipayung Plus dan BEM hari Senin kemarin. Kami
ingin membedah tujuh tuntutan evaluasi kami agar proyeksi pembangunan Lampung
Selatan dalam empat tahun ke depan bisa jauh lebih baik,” ujar Sandi di hadapan
Bupati dan jajaran pejabat.
Dalam forum tersebut, Bupati Egi didampingi Sekretaris Daerah Supriyanto, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Kepala Bappeda, Kepala Kesbangpol, Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan, serta Ketua Forum CSR Lampung Selatan. Kehadiran lengkap jajaran ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam merespons aspirasi mahasiswa.

Menanggapi paparan mahasiswa,
Egi menyampaikan apresiasi atas keberanian dan kepedulian mereka terhadap
pembangunan daerah. Namun ia juga memberi catatan terkait dinamika komunikasi
dalam audiensi tersebut.
“Saya ucapkan terima kasih atas
kehadiran rekan-rekan. Tentu saya mengapresiasi segala saran dan kritik. Namun
jujur, dari paparan tadi, saya belum mendengar kalimat terima kasih, yang
disampaikan melulu tuntutan. Padahal, program-program yang kami jalankan saat
ini dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat. Tapi it’s okay, di sinilah kita diajarkan apa yang namanya dewasa dalam
berdemokrasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menandai
suasana diskusi yang terbuka dan lugas, namun tetap dalam koridor dialog
konstruktif. Bupati Egi menegaskan dirinya bukan tipe pemimpin yang anti kritik,
termasuk di ruang digital.
“Saya bukan tipe orang yang
anti-kritik. Di media sosial saja, jika ada 1.000 atau 2.000 orang mengkritik,
saya terima dengan baik. Kalaupun saya anti-kritik, saya pasti sudah menutup
kolom komentar sejak lama,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjalankan tata kelola yang inklusif dan transparan, serta membuka akses informasi publik seluas-luasnya bagi media maupun masyarakat.
Sarasehan tersebut diharapkan
menjadi titik temu antara mahasiswa sebagai kontrol sosial dan pemerintah
sebagai eksekutif, sehingga kritik yang disampaikan tidak berhenti pada
tuntutan, melainkan bermuara pada kolaborasi untuk kemajuan Kabupaten Lampung
Selatan. (Gil-Kmf)