DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung
Selatan mulai mematangkan pengembangan Kawasan Pertanian Anak Nusantara
(Kawanara) seluas 1.335 hektare di Desa Trimomukti, Kecamatan Candipuro.
Kawasan ini dirancang sebagai
pusat pertanian terintegrasi berbasis agroeduwisata guna meningkatkan
produktivitas gabah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui
penguatan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Pemantapan rencana tersebut
dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten Bidang Ekonomi dan
Pembangunan (Ekobang) Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Lampung Selatan,
Tri Umaryani, di ruang kerjanya, Kamis (19/2/2026).
Rapat dihadiri Kepala Dinas
Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPH-Bun), Mugiyono, Kepala
Bappeda Aryan Saruhian, serta jajaran perangkat daerah terkait.
Kepala Dinas TPH-Bun Kabupaten Lampung
Selatan, Mugiyono, menjelaskan bahwa pengembangan Kawanara merupakan respons
atas program peningkatan produksi gabah kering yang dicanangkan Presiden
Prabowo Subianto.
“Kawasan Pertanian Anak
Nusantara ini akan dikembangkan di atas lahan seluas 1.335 hektare dengan
konsep agroeduwisata. Program ini merupakan respons terhadap arahan Presiden
dalam peningkatan produksi gabah kering, dari yang semula panen dua kali
setahun menjadi tiga kali panen dalam satu tahun,” ujar Mugiyono.
Menurutnya, optimalisasi lahan
dan dukungan infrastruktur pertanian menjadi fokus utama agar produktivitas
petani meningkat secara berkelanjutan.
Perbaikan irigasi, sarana produksi, hingga penguatan manajemen usaha tani menjadi bagian dari skema pengembangan kawasan tersebut.

Sementara itu, Tri Umaryani
menekankan pentingnya sinergi lintas perangkat daerah agar program berjalan
selaras dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Ia meminta Dinas TPH-Bun
mengoordinasikan sinkronisasi perencanaan pertanian dengan dukungan infrastruktur
dan penganggaran yang terukur.
“Untuk lingkup pertanian,
program Kawanara perlu disinkronisasikan dan dikoordinasikan oleh Dinas TPH-Bun
agar perencanaan pembangunan infrastruktur dapat berjalan selaras dengan
dokumen perencanaan daerah,” kata Tri Umaryani.
Lebih jauh, Tri Umaryani menegaskan
bahwa Kawanara tidak hanya dirancang sebagai kawasan produksi pangan, tetapi
juga sebagai kawasan strategis yang memadukan sektor pertanian dan pariwisata.
Konsep agroeduwisata dinilai mampu menciptakan nilai tambah melalui kunjungan edukatif, pemberdayaan UMKM desa, serta penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
“Kawanara tidak hanya menjadi
kawasan pertanian, tetapi harus berkembang sebagai kawasan strategis yang
memadukan sektor pertanian dan pariwisata. Ini dapat menjadi contoh bagaimana
desa berbasis pertanian mampu meningkatkan nilai tambah dengan dukungan sektor
lain, khususnya pariwisata,” tambahnya.
Selain infrastruktur dan
integrasi sektor, penguatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi
perhatian. Edukasi kepada masyarakat diharapkan mendorong lahirnya gerakan
pertanian yang selaras dengan gerakan pariwisata desa, sehingga dampaknya tidak
hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani dan
warga sekitar.
Pemkab Lampung Selatan pun berharap
dukungan seluruh perangkat daerah agar pengembangan Kawanara berjalan optimal
dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,
khususnya di wilayah Candipuro. (lmhr-Kmf)