DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Pengembangan pertanian modern dan smart farming di Kabupaten Lampung
Selatan mulai menarik perhatian daerah lain.
Terbaru, anggota DPRD Kabupaten
Pringsewu melakukan kunjungan kerja ke Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan
Perkebunan (TPH-Bun) Lampung Selatan, Selasa (10/2/2026), untuk mempelajari
langsung konsep dan implementasi program pertanian berbasis inovasi yang tengah
dikembangkan pemerintah daerah setempat.
Rombongan DPRD Pringsewu
diterima oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas TPH-Bun Lampung Selatan,
Mugiyono, di kantor dinas tersebut. Dalam pertemuan itu, para legislator
menggali informasi mengenai kebijakan, strategi, hingga pelaksanaan pertanian
modern yang kini menjadi salah satu fokus pembangunan sektor pertanian di
Lampung Selatan.
Mugiyono menjelaskan, arah
pengembangan pertanian di Lampung Selatan saat ini mengusung konsep
agroeduwisata, yakni integrasi sektor pertanian, pendidikan, dan pariwisata
dalam satu ekosistem pembangunan terpadu.
Program tersebut diinisiasi
langsung oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, sebagai model
pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga edukasi
serta peningkatan nilai ekonomi daerah.
“Program agroeduwisata ini
lahir dari kebutuhan menghadirkan model pembangunan pertanian yang lebih luas
manfaatnya, tidak sekadar produksi, tetapi juga sarana edukasi dan destinasi
wisata,” ujar Mugiyono.
Ia menambahkan, konsep tersebut
didasarkan pada potensi sumber daya alam pertanian yang melimpah serta kekayaan
budaya masyarakat Lampung Selatan. Melalui pendekatan ini, kawasan pertanian
diharapkan berkembang menjadi sentra produksi sekaligus destinasi wisata
edukatif yang mampu memberdayakan masyarakat.
Salah satu program unggulan
yang dipaparkan adalah pengembangan Kawasan Pertanian Anak Nusantara di Desa
Trimomukti, Kecamatan Candipuro. Kawasan ini dirancang sebagai model
percontohan pertanian modern berkelanjutan sekaligus kawasan agroeduwisata.
Menurut Mugiyono, pemerintah
daerah menggandeng berbagai pihak untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi
area pertanian yang produktif, edukatif, dan menarik untuk dikunjungi. Dalam
pengembangannya, kawasan ini ditargetkan mampu melakukan tiga hingga empat kali
masa tanam dalam satu tahun.
Pada 2025, Lampung Selatan
telah berhasil mencapai tiga kali masa tanam di lahan sekitar 400 hektare.
Sementara pada 2026, target pengembangan diperluas hingga 1.000 hektare.
“Semangat petani di Desa Trimomukti sangat luar biasa dan menjadi kekuatan utama dalam keberhasilan program pertanian modern di Lampung Selatan,” kata Mugiyono.
Untuk mendukung program
tersebut, pemerintah daerah juga memperkuat infrastruktur dan sarana prasarana
pertanian. Di antaranya penambahan daya dan penataan jaringan listrik,
pengadaan drone sprayer pestisida,
bantuan tiga unit combine harvester,
serta pembangunan jalan usaha tani, peningkatan akses jalan menuju kawasan,
pembangunan gorong-gorong, dan talud.
Pengembangan pertanian modern
dan smart farming ini tidak hanya difokuskan di Desa Trimomukti, tetapi juga
direncanakan diperluas ke sejumlah kecamatan lain sebagai model percontohan
pertanian masa depan di Lampung Selatan.
Sementara, Ketua Komisi II DPRD
Kabupaten Pringsewu, Mastuah, menyampaikan apresiasi atas inovasi yang
dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Ia menilai konsep pertanian
modern berbasis kolaborasi tersebut sebagai langkah progresif yang belum tentu
mampu dijalankan semua daerah.
“Saya sangat mengapresiasi
program ini. Lampung Selatan mampu mencetuskan dan menjalankan program
pertanian modern secara kolaboratif, dan itu luar biasa,” ujarnya.
Mastuah juga menyampaikan
rencana pihaknya untuk kembali berkunjung bersama jajaran perangkat daerah
terkait guna memperdalam kajian serta menjadikan program tersebut sebagai
referensi pengembangan pertanian di Kabupaten Pringsewu.
“Kami akan datang lagi bersama
kepala dinas terkait agar bisa melihat langsung implementasinya. Harapannya,
konsep ini dapat menjadi contoh dan diadaptasi di Pringsewu,” kata Mastuah.
(Nsy)