DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Menghadapi potensi erupsi Gunung Anak
Krakatau dan ancaman tsunami, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan
memperkuat kesiapsiagaan dari hal yang paling mendasar: memastikan data warga,
jalur evakuasi dan tempat pengungsian benar-benar siap digunakan ketika keadaan
darurat terjadi.
Langkah tersebut dibahas dalam
Rapat Koordinasi dan Tindak Lanjut Rencana Aksi Menghadapi Erupsi Gunung Anak
Krakatau dan Ancaman Tsunami yang dipimpin Asisten Bidang Pemerintahan dan
Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Muhammad Darmawan, di Ruang
Rapat Pusdalops BPBD Lampung Selatan, Rabu (16/9/2026).
Darmawan menegaskan,
kesiapsiagaan bencana tidak boleh berhenti pada dokumen rencana aksi. Setiap
kebutuhan di lapangan harus dicatat, dilaporkan dan segera dilengkapi agar dapat
digunakan saat dibutuhkan.
“Yang dibutuhkan dicatat dan
dilaporkan, supaya nanti bisa kita lengkapi. Hal-hal yang belum lengkap harus
kita lengkapi,” kata Darmawan.
Salah satu perhatian utama
adalah pemutakhiran data masyarakat di wilayah pesisir. Camat diminta
memastikan jumlah kepala keluarga dan penduduk di desa-desa yang berpotensi terdampak
tercatat secara akurat.
Data tersebut menjadi dasar
penting bagi pemerintah dalam menentukan kebutuhan evakuasi, penanganan warga
hingga distribusi bantuan apabila terjadi keadaan darurat.
Pemutakhiran data dilakukan di
Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Bakauheni, Sidomulyo dan Katibung. Data diminta
disampaikan secara tertulis paling lambat Senin (21/9/2026).
Selain data warga, kesiapan
jalur dan rambu evakuasi juga menjadi perhatian. Sejumlah rambu ditemukan dalam
kondisi miring, roboh maupun terhalang pepohonan sehingga perlu segera
dibenahi.
Kondisi tersebut dinilai penting untuk ditangani karena jalur evakuasi harus mudah terlihat dan dipahami masyarakat, terutama ketika proses penyelamatan harus dilakukan dalam waktu singkat.

Pemkab Lampung Selatan juga
memetakan sejumlah lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi, di
antaranya GOR Way Handak, GOR Mustafa Kemal dan Lapangan Tennis Indoor
Kalianda.
Tidak hanya memastikan lokasi
tersedia, pemerintah juga akan memeriksa fasilitas pendukung di tempat-tempat
tersebut, mulai dari penerangan, ketersediaan air hingga fasilitas mandi, cuci
dan kakus (MCK).
Pengecekan bersama dijadwalkan
Kamis (17/9/2026), sehingga tempat evakuasi yang telah dipetakan benar-benar
berada dalam kondisi siap digunakan ketika masyarakat membutuhkan tempat
perlindungan.
Menurut Darmawan, kesiapsiagaan
harus dibangun secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
Pembahasan kebencanaan juga tidak semestinya baru dilakukan ketika bencana
terjadi.
“Ke depan tiap hari Rabu akan
dilakukan rutin rapat kesiapsiagaan bencana ini. Tidak hanya gempa dan tsunami,
tapi bencana itu banyak macamnya, jadi kita harus benar-benar serius dan rutin
membahasnya,” ujarnya.
Melalui langkah tersebut,
Pemkab Lampung Selatan berupaya memastikan kesiapsiagaan tidak hanya berada di
tingkat pemerintah kabupaten, tetapi tersambung hingga wilayah yang berhadapan
langsung dengan potensi bencana.
Dengan data warga yang
diperbarui, jalur evakuasi yang jelas dan tempat pengungsian yang siap,
masyarakat di wilayah rawan diharapkan memiliki kepastian mengenai langkah yang
harus dilakukan dan tempat yang dituju apabila keadaan darurat terjadi.
(Nsy-Kmf)