DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Kemarau yang diperkirakan masih
berlangsung hingga Desember mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung
Selatan memperkuat kesiapsiagaan bencana hingga tingkat desa.
Langkah antisipasi dilakukan
mulai dari menyiapkan alternatif sumber air bagi warga hingga memastikan titik
kumpul dan jalur evakuasi di wilayah rawan bencana.
Sejumlah wilayah di Lampung
Selatan saat ini mulai mengalami kekurangan air bersih, sementara lahan
pertanian juga mulai mengering. Kondisi ini menjadi perhatian Pemkab agar
langkah penanganan dapat disiapkan lebih awal sebelum dampak kemarau meluas.
Asisten Bidang Pemerintahan dan
Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Muhammad Darmawan, meminta para
camat tidak menunggu kondisi semakin parah, tetapi segera memetakan persoalan
dan mencari alternatif sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Hal itu disampaikan Darmawan
saat memimpin rapat koordinasi pejabat Pemkab Lampung Selatan di Aula Rajabasa,
Kantor Bupati Lampung Selatan, Senin (14/9/2026).
“Diharapkan dari sekarang para
camat untuk sama-sama carikan alternatif solusi untuk mencarikan sumber-sumber
air bagi daerah-daerah, desa-desa yang memang kekurangan air,” kata Darmawan.
Menurutnya, kesiapan sumber air perlu diperhitungkan sejak awal, termasuk mengantisipasi keterbatasan armada pengangkut air apabila kekeringan meluas. Ketersediaan armada dari PDAM maupun pemadam kebakaran, kata dia, menjadi salah satu hal yang perlu dipetakan agar distribusi air kepada masyarakat dapat dilakukan secara efektif ketika dibutuhkan.

Selain menghadapi dampak
kemarau, Pemkab Lampung Selatan juga meminta jajaran kecamatan memperkuat
mitigasi terhadap potensi bencana lainnya.
Hal ini menyusul kembali beredarnya
informasi mengenai potensi megathrust
di tengah masyarakat. Darmawan menekankan agar informasi tersebut tidak
menimbulkan kepanikan, tetapi justru menjadi momentum untuk meningkatkan
kesiapsiagaan.
“Kita harus dari sekarang
memitigasinya, baik dari kantor, rumah, ya sosialisasi ke seluruh masyarakat,”
ujarnya.
Salah satu langkah yang dinilai
penting adalah memastikan setiap desa, terutama di wilayah pesisir, memiliki
titik kumpul yang jelas dan lokasi evakuasi yang aman.
Penentuan lokasi tersebut perlu
mempertimbangkan tempat yang lebih tinggi serta didukung jalur evakuasi yang
mudah dikenali masyarakat.
“Kepada camat-camat, terutama
yang berada di wilayah-wilayah pesisir, memastikan bahwa setiap desa itu ada titik
kumpulnya,” tegas Darmawan.
Menurut Darmawan, titik kumpul
dan jalur evakuasi tidak cukup hanya ditentukan di atas kertas. Masyarakat
perlu mengetahui sejak dini ke mana harus bergerak apabila terjadi keadaan
darurat.
Kesiapan tersebut sekaligus
menjadi bagian dari konsolidasi pemerintah daerah agar proses evakuasi dan
penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih cepat ketika bencana terjadi.
“Diharapkan ini adalah
konsolidasi untuk memudahkan dari pemerintah nanti untuk membantu, mengevakuasi
kemudian memberikan bantuan yang dibutuhkan secara darurat,” kata Darmawan. (Nsy-Kmf)