DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Tren kenaikan inflasi nasional
menjadi perhatian pemerintah daerah. Meski masih berada dalam level terkendali,
kenaikan tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat pengawasan harga dan
ketersediaan pangan, terutama komoditas yang berkaitan langsung dengan
kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Hal itu menjadi salah satu
perhatian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara virtual, Senin (14/9/2026).
Pemerintah Kabupaten Lampung
Selatan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengikuti rakor tersebut
dari Ruang Kabag Perekonomian, Kantor Bupati Lampung Selatan.
Dalam rakor tersebut, Tito
menyampaikan inflasi nasional saat ini berada pada angka 3,19 persen. Angka itu
masih di bawah batas 3,5 persen, namun menunjukkan tren peningkatan dibandingkan
periode sebelumnya.
“Angka nasional cukup baik,
3,19 persen, di bawah 3,5 persen. Tetapi trennya menunjukkan kenaikan, dari 2,8
menjadi 3,19 persen,” ujar Tito.
Kenaikan juga tercatat secara month-to-month (mtm), yakni sebesar 0,21
persen dari Juli ke Agustus. Kondisi ini menjadi perhatian karena sejumlah
komoditas mulai memberikan tekanan terhadap inflasi.
Kelompok makanan, minuman dan
tembakau menjadi salah satu penyumbang utama. Tekanan inflasi juga berasal dari
sektor pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru serta kelompok perawatan
pribadi dan jasa lainnya, terutama komoditas emas.
Di antara sejumlah komoditas
pangan, daging ayam ras memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi, yakni
0,17 persen. Sementara cabai rawit, ikan segar, beras dan emas perhiasan
masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,02 persen.
Tito meminta pemerintah daerah
memberikan perhatian khusus terhadap komoditas yang menjadi kebutuhan pokok
masyarakat, terutama daging ayam ras, telur ayam ras dan beras.
“Yang perlu kita waspadai adalah daging ayam ras, telur ayam ras dan beras. Tiga ini merupakan kebutuhan pokok masyarakat,” tegasnya.

Selain tiga komoditas tersebut,
pemerintah daerah juga diminta mencermati perkembangan harga cabai merah,
bawang merah, minyak goreng, daging sapi, gula pasir hingga jeruk.
Untuk mengantisipasi potensi
kenaikan harga, Tito mendorong Bulog bersama Badan Pangan Nasional melakukan
intervensi melalui operasi pasar.
Langkah tersebut dinilai
penting untuk menjaga ketersediaan sekaligus memastikan harga pangan tetap
terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah daerah juga diminta
berkoordinasi dengan distributor dan produsen guna mengetahui penyebab kenaikan
harga, khususnya pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras.
“Kita perlu mencari tahu kenapa
harga bisa naik. Kemudian mengumpulkan para distributor dan produsen, terutama
daging ayam dan telur,” kata Tito.
Menindaklanjuti arahan
tersebut, TPID Kabupaten Lampung Selatan akan terus mencermati perkembangan
harga dan ketersediaan komoditas pangan di daerah.
Pengawasan dilakukan untuk
mengantisipasi gejolak harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah tren
kenaikan inflasi nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian
dari upaya Pemkab Lampung Selatan menjaga stabilitas harga pangan agar
kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia dan terjangkau. (ptm)