DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Kreativitas dan energi kaum muda
mulai diarahkan menjadi kekuatan baru untuk mengembangkan potensi ekonomi desa
di Kabupaten Lampung Selatan, dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Upaya tersebut diperkuat
melalui Program Pioneer for a Green
Future: Green Income Prospects for Marginalized Youth (Green PRO), yang
mendorong terciptanya peluang pendapatan hijau bagi kaum muda, khususnya
kelompok yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi.
Penguatan program tersebut
dibahas dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Review Modul Tahun 2026 Program
Green PRO yang digelar Paluma Nusantara bersama para mitra pembangunan, dengan
melibatkan unsur pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, dunia
usaha, dan kaum muda.
Rangkaian kegiatan yang
berlangsung pada 8-9 September 2026 itu dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten
Lampung Selatan, Supriyanto, di Aula Rimau Kantor Bappeda Kabupaten Lampung
Selatan, Selasa (8/9/2026).
Sekda Supriyanto, mengatakan
pengembangan ekonomi hijau memiliki relevansi kuat dengan arah pembangunan
daerah karena dapat membuka ruang bagi kaum muda untuk mengolah potensi desa
menjadi aktivitas ekonomi yang produktif sekaligus berkelanjutan.
“Desa memiliki berbagai potensi ekonomi dan sumber daya yang besar. Di sisi lain, kaum muda memiliki kreativitas, energi, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi yang dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan potensi tersebut,” ujar Supriyanto.

Menurutnya, potensi tersebut
perlu dipertemukan melalui ruang kolaborasi yang melibatkan pemerintah, pemerintah
desa, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, kaum muda, serta
mitra pembangunan.
Kolaborasi tersebut dinilai
penting agar pengembangan ekonomi hijau tidak berhenti pada gagasan, tetapi
dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
dan karakteristik masing-masing desa.
Karena itu, Supriyanto
menekankan agar RKT dan review modul Green PRO menghasilkan rencana kerja yang
aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan.
“Pemerintah tidak dapat
berjalan sendiri. Pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha,
perguruan tinggi, komunitas, kaum muda, dan mitra pembangunan harus terus
membangun ekosistem kolaborasi yang saling memperkuat,” katanya.
Sejumlah sektor yang menjadi
perhatian dalam program tersebut antara lain pemasaran online, budidaya lebah
trigona, agro-eduwisata, pengolahan hasil pertanian, energi baru terbarukan,
hingga efisiensi energi.
Pengembangannya akan disesuaikan dengan potensi dan karakteristik masing-masing desa sehingga peluang ekonomi yang dibangun dapat lebih relevan dan memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Di Kabupaten Lampung Selatan,
Program Green PRO dilaksanakan di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, dan Desa Totoharjo,
Kecamatan Bakauheni.
Kedua desa tersebut menjadi
bagian dari upaya membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi kaum muda melalui
pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan prinsip keberlanjutan.
Dalam rangkaian kegiatan RKT
dan review modul, para peserta juga melakukan penandatanganan komitmen atau
kerja sama sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antarpihak dalam mendukung
pelaksanaan Program Green PRO.
Supriyanto berharap berbagai
masukan yang muncul dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bahan penyempurnaan
program, sehingga pengembangan ekonomi hijau tidak hanya menjadi konsep, tetapi
benar-benar dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat dan kekuatan ekonomi
masing-masing desa.
Ia juga mengajak seluruh
peserta memanfaatkan forum tersebut untuk aktif berdiskusi, bertukar
pengalaman, dan membangun jejaring yang dapat terus dikembangkan guna
memperkuat kemandirian, produktivitas, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat
desa. (Nsy-Kmf)