DISKOMINFO LAMSEL, Kalianda - Kenaikan Indeks Perkembangan Harga
(IPH) Provinsi Lampung sebesar 1,15 persen menjadi sinyal kewaspadaan bagi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan untuk memperkuat pengendalian
harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat.
Kenaikan tersebut terutama
dipengaruhi komoditas daging ayam ras dan cabai rawit yang memiliki keterkaitan
langsung dengan kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat.
Menyikapi kondisi itu, Pemkab
Lampung Selatan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat
pemantauan terhadap perkembangan harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran
distribusi komoditas strategis.
Langkah tersebut menjadi bagian
dari upaya menjaga harga tetap terkendali sekaligus memastikan kebutuhan
masyarakat tersedia dengan harga yang wajar.
Perkembangan IPH tersebut
menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian
Inflasi yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara
virtual melalui Zoom Meeting, Selasa (18/8/2026).
Rakor tersebut diikuti TPID
Kabupaten Lampung Selatan dari Ruang Kepala Bagian Perekonomian, Kantor Bupati
Lampung Selatan.
Dalam pemaparannya, Deputi
Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono,
menyampaikan sebanyak 20 provinsi mengalami kenaikan IPH, sedangkan 18 provinsi
lainnya mengalami penurunan.
Provinsi Lampung tercatat
berada di posisi keenam dengan kenaikan IPH sebesar 1,15 persen. “Kenaikan ini
terutama karena daging ayam ras dan cabai rawit,” ujar Ateng.
Kondisi tersebut menjadi
perhatian pemerintah daerah karena perubahan harga pada komoditas pangan
strategis dapat berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Karena
itu, ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi faktor penting yang
perlu terus dijaga agar gejolak harga tidak meluas.
Selain perkembangan IPH,
pemerintah daerah juga diingatkan untuk mewaspadai potensi dampak fenomena El
Nino terhadap produksi dan harga pangan.
Ateng mengatakan, pengalaman
sebelumnya menunjukkan bahwa El Nino dapat memberikan tekanan terhadap sejumlah
komoditas pangan, termasuk beras. Kondisi tersebut tercermin dari terjadinya
inflasi beras pada September 2023 dan Februari 2024.
“Kita pernah mengalami inflasi
akibat El Nino. Pada September 2023 dan Februari 2024 terjadi inflasi beras.
Ini harus kita cermati ketika terjadi El Nino,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris
Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, menekankan pentingnya menjaga harga kebutuhan
masyarakat tetap terjangkau.
Menurutnya, stabilitas harga
merupakan salah satu faktor penting dalam mempertahankan daya beli sekaligus
mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Bertambahnya usia kemerdekaan
diharapkan bisa menambah kemakmuran. Dalam rapat inflasi ini kita bersama-sama
menjaga harga agar tetap terjangkau dan tidak terjadi kenaikan, sehingga daya
beli masyarakat tetap terjaga,” kata Tomsi.
Secara nasional, jumlah
kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH pada pekan ini mencapai 207 daerah.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak
193 kabupaten/kota.
Salah satu daerah yang
mengalami kenaikan cukup tinggi adalah Kabupaten Lampung Tengah dengan peningkatan
IPH sebesar 3,75 persen.
Di Kabupaten Lampung Selatan,
TPID akan terus memperkuat langkah pengendalian melalui pemantauan harga dan
pasokan komoditas strategis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penetrasi
pasar secara rutin di Pasar Inpres Kalianda, Pasar Natar, Pasar Sidomulyo,
serta sejumlah titik strategis lainnya.
Penetrasi pasar tersebut
dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan harga sekaligus memastikan
ketersediaan komoditas pangan di tingkat konsumen.
Langkah tersebut juga menjadi
bagian dari upaya pemerintah daerah untuk merespons lebih cepat apabila
ditemukan potensi kenaikan harga maupun gangguan pasokan di lapangan.
Dengan penguatan pemantauan dan
koordinasi lintas sektor, Pemkab Lampung Selatan berkomitmen menjaga stabilitas
harga pangan agar tetap terkendali. Upaya itu diharapkan mampu menjaga
kebutuhan pokok tetap terjangkau sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat
di tengah dinamika harga pangan. (ptm)