DISKOMINFO LAMSEL, Way Panji - Di balik kemegahan prosesi adat
Ngaben Massal di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, tersimpan makna yang
jauh lebih dalam daripada sekadar tradisi budaya.
Bagi masyarakat Hindu
Balinuraga, Ngaben Massal merupakan wujud bakti kepada orang tua dan leluhur
yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi warisan budaya
yang kini turut menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Tradisi yang diselenggarakan
setiap tiga tahun sekali tersebut menjadi momentum sakral untuk menyucikan
unsur fisik dan mengantarkan roh kembali ke asalnya. Seluruh rangkaian upacara
dilandasi nilai kebersamaan, gotong royong, serta keikhlasan yang terus dijaga
oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Balinuraga.
Pada penyelenggaraan tahun
2026, Ngaben Massal digelar dengan skala terbesar sepanjang sejarah
pelaksanaannya. Sebanyak 153 jenazah dewasa dan 132 jenazah anak akan
diberangkatkan secara massal pada puncak prosesi yang dijadwalkan berlangsung
pada 7 Agustus 2026.
Kepala Desa Balinuraga, Made
Suwede, mengatakan tradisi Ngaben Massal telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat selama puluhan tahun. Meski tidak dapat memastikan kapan pertama
kali diselenggarakan, ia memperkirakan tradisi tersebut telah berlangsung lebih
dari 15 kali dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
"Tahun ini menjadi Ngaben
Massal terbesar yang pernah kami laksanakan. Sebanyak 153 jenazah dewasa dan
132 jenazah anak akan diberangkatkan secara massal pada puncak acara tanggal 7
Agustus nanti," ujar Made Suwede.
Kemegahan penyelenggaraan tahun
ini juga terlihat dari pembangunan bade, yakni menara tempat prosesi
pemberangkatan jenazah, dengan tinggi mencapai sekitar 24 meter. Bade tersebut
menjadi salah satu yang terbesar yang pernah dibuat masyarakat Balinuraga dan
menjadi simbol penghormatan terakhir kepada para leluhur.
Tidak hanya diikuti masyarakat
Lampung Selatan, Ngaben Massal tahun ini juga diikuti umat Hindu dari berbagai
daerah, mulai dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, sejumlah kabupaten/kota
di Provinsi Lampung, hingga Pulau Bali.
Kehadiran peserta dari berbagai wilayah tersebut mencerminkan eratnya ikatan persaudaraan umat Hindu yang terus terpelihara melalui tradisi adat ini.

Menurut Made Suwede, filosofi
utama Ngaben bukan terletak pada kemegahan prosesi, melainkan pada makna bakti
seorang anak kepada orang tua dan leluhurnya.
"Ngaben merupakan bentuk
bakti kita sebagai anak kepada leluhur yang telah melahirkan dan membesarkan
kita. Harapannya, generasi muda selalu menghormati dan mengingat jasa para
leluhur karena dari merekalah kehidupan ini berasal," katanya.
Seluruh persiapan Ngaben Massal
telah dimulai sejak 14 Juli dan akan berlangsung hingga 10 Agustus 2026.
Berbagai tahapan dilaksanakan secara bergotong royong oleh masyarakat,
melibatkan tokoh adat, pemuka agama, serta warga desa yang bahu-membahu menyukseskan
setiap rangkaian upacara.
"Yang paling penting dalam
pelaksanaan Ngaben Massal ini adalah semangat kebersamaan. Kami melaksanakannya
dengan tulus, ikhlas, tanpa mengharapkan pamrih. Semoga nilai-nilai ini terus
diwariskan kepada generasi berikutnya," tutur Made.
Bagi masyarakat Balinuraga,
Ngaben Massal bukan hanya menjadi upaya melestarikan tradisi leluhur, tetapi
juga sarana menanamkan nilai penghormatan kepada orang tua dan leluhur kepada
generasi muda. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap hidup sebagai
identitas budaya masyarakat, sekaligus memperkuat daya tarik Desa Balinuraga
sebagai destinasi wisata budaya yang kaya akan nilai spiritual, kebersamaan,
dan gotong royong. (Nsy)