DISKOMINFO LAMSEL, Way Panji - Pelaksanaan Ngaben Massal di Desa
Balinuraga, Kecamatan Way Panji, tidak hanya menjadi perhelatan budaya dan
keagamaan umat Hindu terbesar di Lampung.
Di balik kemegahan prosesi
tersebut, tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu juga membawa berkah
bagi perekonomian masyarakat, dengan perputaran uang yang diperkirakan mencapai
Rp1 miliar setiap hari selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Ribuan masyarakat yang datang
dari berbagai daerah, seperti Bengkulu, Palembang, Jambi, hingga sejumlah
kabupaten/kota di Provinsi Lampung, tidak hanya memadati lokasi upacara untuk
menyaksikan prosesi Ngaben Massal. Kehadiran mereka juga mendorong meningkatnya
aktivitas ekonomi masyarakat melalui kebutuhan konsumsi, akomodasi, perlengkapan
upacara, hingga berbagai produk khas daerah.
Momentum tersebut dimanfaatkan sekitar 300 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan. Beragam produk ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari perlengkapan persembahyangan, sarana banten (sesajen), kuliner, makanan ringan, hingga aneka produk UMKM lokal.

Kepala Desa Balinuraga, Made
Suwede, mengatakan Ngaben Massal Tahun 2026 menjadi penyelenggaraan terbesar
yang pernah dilaksanakan di desa tersebut. Selain diikuti ratusan peserta dari
berbagai daerah, kegiatan itu juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan
bagi masyarakat.
"Berkat adanya Ngaben
Massal ini, banyak UMKM yang tumbuh. Perputaran uang setiap hari diperkirakan
hampir mencapai Rp1 miliar. Pada malam hari suasananya seperti pasar malam
karena ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah," ujar Made
Suwede.
Menurutnya, besarnya antusiasme
masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan
dengan peningkatan kesejahteraan warga. Tradisi yang dijaga secara konsisten
mampu menghadirkan manfaat nyata bagi perekonomian desa.
Dampak positif tersebut juga
dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Salah satunya, Kadek Dewi Widian,
pedagang perlengkapan persembahyangan yang telah berjualan sejak lima hari
sebelum puncak acara.
Ia menjual berbagai kebutuhan
upacara, seperti canang sari, canang wangi, sodaan, dupa, hingga perlengkapan
sembahyang bagi umat Hindu. Menurutnya, tingginya jumlah pengunjung membuat
penjualannya meningkat dibanding hari biasa.
"Pembeli sudah ramai sejak beberapa hari lalu. Banyak yang datang dari luar daerah, jadi mereka lebih memilih membeli perlengkapan di sini karena lebih praktis. Dagangan saya laris dan sangat membantu menambah penghasilan keluarga," katanya.

Hal serupa dirasakan Ester,
pelaku UMKM asal Kecamatan Way Panji yang menjual berbagai makanan ringan,
seperti keripik pisang, keripik singkong, keripik tempe, bolu, serta aneka kue
basah.
Ia mengaku dagangannya cepat
habis karena tingginya jumlah pengunjung yang datang sejak pagi hari.
"Masih pagi saja dagangan
saya sudah banyak yang habis. Kegiatan seperti ini sangat membantu menambah
pemasukan dan omzet penjualan kami. Semoga kegiatan seperti ini terus ada
karena dampaknya sangat besar bagi pelaku UMKM," ujarnya.
Selain menjadi ruang
pelestarian budaya dan pelaksanaan upacara keagamaan, Ngaben Massal di Desa
Balinuraga membuktikan bahwa tradisi juga mampu menjadi penggerak ekonomi
masyarakat. Ramainya kunjungan dari berbagai daerah membuka peluang usaha baru,
meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Keberhasilan penyelenggaraan
Ngaben Massal Tahun 2026 pun memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya
memiliki nilai spiritual dan sosial, tetapi juga dapat menjadi daya tarik
wisata budaya yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat.
(Nsy-Kmf)